Showing posts with label Sahabat Nabi. Show all posts
Showing posts with label Sahabat Nabi. Show all posts

Friday, February 11, 2011

Sahabat Nabi: Ammar bin Yassir

Yasir bin ‘Amir, ayahanda ‘Ammar, berangkat meninggalkan negerinya di Yaman guna mencari dan menemui salah seorang saudaranya. Rupanya ia berkenan dan cocok tinggal di Mekah. Bermukimlah ia disana dan mengikat perjanjian persahabatan dengan Abu Hudzaifah Ibnul Mughirah.

Abu Hudzaifah mengawinkan dengan salah seorang sahayanya bernama Sumayah binti Khayyath, dan dari perkawinan yang penuh berkah ini, dikarunia seorang putra bernama ‘Ammar.Keislaman mereka termasuk dalam golongan yang pertama, sebagaimana halnya dengan mereka yang pertama masuk Islam. Mereka cukup menderita dengan sikap kebiadaban dan kekejaman kaum Quraisy.

Orang-orang Quraisy menjalankan siasat terhadap kaum muslimin sesuai suasana: seandainya mereka ini golongan bangasawan dan berpengaruh, mereka hadapi dengan ancaman dan gertakan. Abu Jahal, misalnya, menggertak dengan ungkapan, “Kamu berani meninggalkan agama nenek moyangmu padahal mereka lebih baik daripadamu! Akan kami uji sampai dimana ketabahanmu; akan kami jatuhkan kehormatanmu; akan kami rusak perniagaanmu; dan akan kami musnahkan harta bendamu!” Setelah itu, mereka lancarkan kepadanya perang urat syaraf yang amat sengit. Sementara, sekiranya yang beriman itu dari kalangan penduduk Mekah yang rendah martabatnya dan yang miskin; atau dari golongan budak belian, mereka didera dan disulutnya dengan api bernyala.

Keluarga Yasir telah ditakdirkan oleh Allah SWT termasuk dalam golongan yang kedua ini. Maka, masuklah keluarga Yasir ke dalam kelompok yang mendapat perlakuan yang zalim dari mereka. Setiap hari, Yasir, Sumayyah, dan ‘Ammar dibawa ke padang pasir Mekah yang demikian panas, lalu didera dengan berbagai adzab dan siksa.

Dengan cobaan itu, Sumayyah telah menunjukan kepada manusia sikap ketabahan, suatu kemuliaan yang tak pernah hapus dan kehormatan yang dipamerkannya tak pernah luntur; suatu sikap yang telah menjadikannya seorang bonda kandung bagi orang-orang mu’min disetiap zaman, dan bagi para budiman sepanjang masa.

Pengorbanan-pengorbanan mulia yang dahsyat itu tak ubahnya sebagai tiang yang akan menjamin bagi agama dan ‘aqidah yang teguh dan tak akan lapuk. Ia juga menjadi teladan yang akan mengisi hati orang-orang beriman dengan rasa simpati, kebanggan dan kasih sayang; ia adalah menara yang akan menjadi pedoman bagi generasi-generasi mendatang untuk mencapai hakikat agama, kebenaran dan kebesarannya.

Untuk meletakkan dasar, memancangkan tiang-tiang, dan memperkokoh agama-Nya, Allah memperlihatkan model contoh melalui para pemuka dan tokoh-tokoh utamanya dengan sikap pengorbanan harta dan jiwanya agar menjadi teladan istimewa bagi orang-orang beriman yang kemudian. Sumayyah, Yassir, dan ‘Ammar adalah termasuk teladan istimewa, sampai-sampai Rasulullah SAW setiap hari menghampiri tempat dimana mereka mendapat siksaan dari orang-orang zalim.

Pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW mengunjungi mereka, ‘Amar memanggilnya, katanya, “Wahai Rasulullah, adzab yang kami derita telah sampai ke puncak.” Maka, seru Rasulullah SAW, “Sabarlah, wahai Abal Yaqdhan… Sabarlah, wahai keluarga Yasir?Tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah syurga!”
Betapa beratnya siksaan yang dialami ‘Ammar oleh kaum yang zalim, dilukiskan oleh kawan-kawannya dalam beberapa riwayat: berkata ‘Ammar bin Hakam, “Ammar itu disiksa – sampai-sampai ia tidak menyadari apa yang diucapkannya.”

Friday, December 17, 2010

Sahabat Nabi: Umar Al-Khatab

Umar bin Khattab (581 – November 644) adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad yang juga menjadi khalifah kedua (634-644) dari empat Khalifah Ar-Rasyidin.
Ia memiliki nama lengkap Umar bin Khattab bin Nafiel bin abdul Uzza, terlahir di Mekkah, dari Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy. Orangtuanya bernama Khaththab bin Nufail Al Mahzumi Al Quraisyi dan Hantamah binti Hasyim.
Keluarga Umar tergolong keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis yang pada masa itu merupakan sesuatu yang jarang. Umar juga dikenal karena fisiknya yang kuat dimana ia menjadi juara gulat di Mekkah.
Sebelum Islam, sebagaimana tradisi kaum jahiliyah mekkah saat itu, Umar mengubur putrinya hidup-hidup. Sebagaimana yang ia katakan sendiri, “Aku menangis ketika menggali kubur untuk putriku. Dia maju dan kemudian menyisir janggutku”

Monday, November 8, 2010

Sahabat Nabi: Zaid bin Thabit

Orangnya masih belia, seumur anak-anak SD sekarang. Tetapi, Allah ternyata memberikan keistimewaan kepadanya. Ia memiliki kecerdasan dan ketajaman berpikir yang luar biasa. Semangat pantang menyerah dan semangat berkorban di jalan Islam tak diragukan lagi lekat kepadanya. Rasulullah memberikan penilaian khusus, dan karenanya termasuk di antara sahabat yang paling disayang Nabi SAW. Siapakah dia? Tak bukan dan tak lain ia adalah Zaid bin Tsabit.

Thursday, October 28, 2010

Sahabat Nabi: Abu Darda'

Uwaimir bin Malik al-Khazraji yang lebih dikenal dengan nama Abu Darda bangun dari tidurnya pagi-pagi sekali. Setelah itu, dia menuju berhala sembahannya di sebuah kamar yang paling istimewa di dalam rumahnya. Dia membungkuk memberi hormat kepada patung tersebut, kemudian diminyakinya dengan wangi-wangian termahal yang terdapat dalam tokonya yang besar, sesudah itu patung tersebut diberinya pakaian baru dari sutera yang megah, yang diperolehnya kemarin dari seorang pedagang yang datang dari Yaman dan sengaja mengunjunginya.
Setelah matahari agak tinggi, barulah Abu Darda masuk ke rumah dan bersiap hendak pergi ke tokonya. Tiba-tiba jalan di Yastrib menjadi ramai, penuh sesak dengan para pengikut Nabi Muhammad yang baru kembali dari peperangan Badar. Di muka sekali terlihat sekumpulan tawanan terdiri dari orang-orang Quraisy. Abu Darda mendekati keramaian dan bertemu dengan seorang pemuda suku Khazraj. Abu Darda menanyakan kepadanya keberdaan Abdullah bin Rawahah. Pemuda Khazraj tersebut menjawab dengan hati-hati pertanyaan Abu Darda, karena dia tahu bagaimana hubungan Abu Darda dengan Abdullah bin Rawahah. Mereka tadinya adalah dua orang teman akrab di masa jahily. Setelah Islam datang, Abdullah bin Rawahah segera masuk Islam, sedangkan Abu Darda tetap dalam kemusyrikan. Tetapi, hal itu tidak menyebabkan hubungan persahabatan keduanya menjadi putus. Karena, Abdullah berjanji akan mengunjungi Abu Darda sewaktu-waktu untuk mengajak dan menariknya ke dalam Islam. Dia kasihan kepada Abu Darda, karena umurnya dihapiskan dalam kemusyrikan.

Sunday, October 24, 2010

Sahabat Nabi: Abdurrahman bin Auf

Abdurrahman bin Auf termasuk kelompok delapan yang mula-mula masuk Islam; termasuk kelompok sepuluh yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah masuk surga; termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah (sebagai formatur) dalam pemilihan khalifah sesudah Umar bin Khattab r.a.; dan seorang mufti yang dipercayai Rasulullah saw. untuk berfatwa di Madinah selagi beliau masih hidup di tengah-tengah masyarakat kaum muslimin.


Namanya pada masa jahiliah adalah Abd Amr. Setelah masuk Islam Rasulullah saw. memanggilnya Abdurrahman bin Auf. Itulah dia Abdurrahman bin Auf r.a. 

Abdurrahman bin Auf masuk Islam sebelum Rasulullah saw. masuk ke rumah Al-Arqam, yaitu dua hari sesudah Abu Bakar ash-Shidiq masuk Islam. Sama halnya dengan kelompok kaum muslimin yang pertama-tama masuk Islam, Abdurrahman bin Auf tidak luput dari penyiksaan dan tekanan dari kaum kafir Quraisy, tetapi dia sabar dan tetap sabar. Pendiriannya teguh dan senantiasa teguh. Dia menghindari dari kekejaman kaum Quraisy, tetapi selalu setia dan patuh membenarkan risalah Muhammad. Kemudian dia turut pindah (hijrah) ke Habasyah bersama-sama kawan-kawan seiman untuk menyelamatkan diri dan agama dari tekanan kaum Quraisy yang senantiasa menerornya.

Thursday, September 2, 2010

Sahabat Nabi: Abu Ubaidah Ibn Al-Jarrah

Rasulullah saw pernah bersabda;

“Sesungguhnya dalam setiap kaum terdapat orang yang jujur. Orang yang jujur di kalangan umatku adalah Abu Ubaidah al Jarrah.”
Dalam hadis yang lain Rasulullah saw bersabda lagi.

“Tiap-tiap umat ada orang yang memegang amanah. Dan pemegang amanah umat ini ialah Abu Ubaiodah al Jarrah.”
Nama sebenarnya Amir bin Abdullah bin Al Jarrah bin Hilal Al Fihri Al Quraisy. Terkenal dengan nama Abu Ubaidah Al Jarrah. Beliau lahir di Mekah dari sebuah keluarga Quraisy yang terhormat. Termasuk orang yang awal masuk Islam, selepas Abu Bakar as Siddiq.

Beliau salah seorang sahabat yang dijamin masuk Syurga. Berperawakan tinggi, kurus, berwibawa, bermuka ceria, selalu merendah diri dan amat pemalu. Kerana itu beliau disenangi oleh mereka yang mengenalinya.

Setelah menjadi pengikut Nabi Muhamad saw, Abu Ubaidah al Jarrah sanggup menghadapi kesulitan dan bersifat berani ketika berada di medan perang. Beliau mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah saw. Dalam perang Badar Abu Ubaidah al Jarrah cuba mengelak dari bertembung dengan ayahnya yang berada dalam pasukan Quraisy yang menentang Rasulullah saw.

Tetapi ayahnya telah bersumpah hendak membunuh anaknya sendiri kerana menjadi pengikut Muhamad. Abdullah terus memburu anaknya hingga suatu ketika Abu Ubaidah al Jarrah terpaksa berdepan dengan ayah sendiri. Dalam pertarungan itu Abu Ubaidah al Jarrah terpaksa membunuh ayahnya. Beliau berasa amat sedih sehingga turun ayat Al-Quran surah Al Mujadalah ayat 22 yang bermaksud.

Engkau tidak menemukan kaum yang beriman kepada Allah dan hari kiamat yang mengasihi orang-orang yang menentang Allah dan Rasulullah, walaupun orang tersebut ayah kandung, anak, saudara atau keluarganya sendiri. Allah telah mematri keimanan di dalam hati mereka dan mereka dibekali pula dengan semangat. Allah akan memasukkan mereka ke dalam syurga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, mereka akan kekal di dalamnya. Akan menyenangi mereka, di pihak lain mereka pun senang dengan Allah. Mereka itulah perajurit Allah, ketahuilah bahwa perajurit Allah pasti akan berjaya.” (Al Mujadalah ayat 22)
Semasa berlakunya perang Uhud, Rasulullah saw terkena anak panah yang dilepaskan musuh lalu tersangkut pada rahang baginda. Abu Ubaidah al Jarrah mencabut anak panah itu dengan giginya sehingga giginya tercabut. Rasulullah saw memberinya gelaran “Gagah dan Jujur”.

Suatu hari datang satu rombongan dari Najran menemui Rasulullah saw lalu meminta baginda menghantar seorang yang boleh dipercayai bagi menyelesaikan pertengkaran di kalangan mereka serta mengajar agama Islam. Rasulullah saw berjanji akan menghantar seorang sahabat yang gagah dan jujur. Sehubungan dengan itu Umar al-Khattab berharap beliau yang akan dipilih Rasulullah saw tetapi orang yang berani dan jujur yang dimaksudkan itu ialah Abu Ubaidah al Jarrah.

Beliau juga seorang yang zuhud, tidak tamak kuasa dan harta. Di bawah pemerintahan khalifah Umar al Khattab, Abu Ubaidah al Jarrah dilantik menjadi ketua pasukan tentera Islam bagi menakluk kota-kota besar yang berada di bawah pemerintahan Rom seperti Kota Damsyik, Syria, Syam, Kota Aleppo, Kota Hims, Kota Antakiah dan Kota al Quds di Baitul Maqdis.

Ketika khalifah Umar al Khattab berkunjung ke Baitul Maqdis, beliau singgah di rumah Abu Ubaidah al Jarrah. Dilihatnya yang ada dalam rumah ketua panglima Islam itu hanyalah pedang, perisai dan pelana kuda sahaja.

“Wahai sahabatku, mengapa engkau tidak mengambil sesuatu dari harta rampasan perang sebagaimana orang lain mengambilnya?” Tanya Umar al Khattab.

“Wahai Amirul Mukminin, ini saja sudah cukup bagiku,” jawab Abu Ubaidah al Jarrah.
Saidina Umar al Khattab melantik Abu Ubaidah al-Jarrah memimpin tentera Islam bagi merebut kembali kawasan tanah Arab yang dijajah oleh kerajaan Rom. Beliau berjaya dalam tugas yang diberikan itu sehingga berjaya menakluk Baitul Maqdis.

Setelah menyelesaikan tugasnya, berlaku wabak penyakit Taun di Syam. Khalifah Umar al-Khattab mengirim surat memanggil Abu Ubaidah al Jarrah pulang ke Madinah namun beliau menolaknya kerana tidak sanggup membiarkan penduduk Syam dan tenteranya dalam bahaya sedangkan dia melarikan diri. Beliau menulis surat kepada Umar al Khattab.

“Wahai Amirul Mukminin! Sebenarnya saya tahu tuan memerlukan saya, akan tetapi saya sedang berada di tengah-tengah tentera Muslimin. Saya tidak ingin menyelamatkan diri sendiri dari musibah yang menimpa mereka dan saya tidak ingin berpisah dari mereka sampai Allah sendiri menetapkan keputusannya terhadap saya dan mereka. Oleh sebab itu, sesampainya surat saya ini, tolonglah jangan paksa saya pulang ke Madinah dan izinkanlah saya tinggal di sini.”

Setelah Umar al Khattab membaca surat itu, beliau menangis sehingga para sahabat menyangka Abu Ubaidah al Jarrah sudah meninggal. Umar menjawab, kematiannya sudah di ambang pintu.

Sebelum meninggal dunia Abu Ubaidah al Jarrah sempat berpesan kepada tenteranya, “Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, puasalah di bulan Ramadhan, berdermalah, tunaikanlah ibadah haji dan umrah, saling nasihat menasihatilah. Berilah nasihat kepada pimpinan kamu, jangan menipu, jangan terpesona dengan harta dunia. Sesungguhnya Allah telah menetapkan kematian untuk setiap manusia, kerana itu semua manusia pasti akan mati. Orang yang paling beruntung adalah orang yang paling taat kepada Allah dan paling banyak bekalnya untuk akhirat.”

Setelah Abu Ubaidah al Jarrah meninggal dunia, Muaz bin Jabal mengambil alih tempatnya lalu berucap di hadapan orang ramai.

“Wahai sekalian kaum Muslimin! Kamu sudah dikejutkan dengan berita kematian seorang pahlawan, yang demi Allah saya tidak menemukan ada orang yang lebih baik hatinya, lebih jauh pandangannya, lebih suka terhadap hari kemudian dan sangat senang memberi nasihat kepada semua orang. Oleh sebab itu kasihanilah beliau, semoga kamu akan dikasihani Allah.”

Abu Ubaidah al Jarrah meninggal dunia pada tahun 18 Hijrah di Urdun dalam wilayah Syam. Jenazahnya dikebumikan di kawasan yang pernah dibebaskannya daripada kekuasaan Rom dan Parsi. Ketika itu beliau berumur 58 tahun.

Credit to: latiptalib.blogspot.com

Thursday, August 26, 2010

Sahabat Nabi: Salim Maula Abu Hudzaifah

Pada suatu hari, Rasulullah saw. berpesan kepada para sahabatnya, “Belajarlah Al Qur'an daripada empat orang: Abdullah bin Mas'ud, Salim Maula Abu Hudzaifah, Ubai bin Ka'b dan Muadz bin Jabal."

Kita sudah berkenalan dengan Abdullah bin Mas'ud, Ubai dan Muadz. Jadi, siapakah pula sahabat yang keempat yang dijadikan Rasulullah sebagai rujukan untuk mengajarkan AI Qur'an?

Dialah Salim Maula (hamba yang dibebaskan oleh) Abu Hudzaifah. Dahulunya, beliau merupakan seorang hamba yang dijual beli, lalu Islam mengangkat martabatnya, sehingga beliau dijadikan anak angkat oleh seorang tokoh Islam terkemuka, yang sebelum masuk Islam juga seorang bangsawan dan pemuka Quraisy.
Selepas Islam menghapuskan budaya anak angkat ketika itu, beliau menjadi saudara dan kawan rapat kepada orang yang memerdekakannya, yaitu sahabat mulia Abu Hudzaifah bin Utbah. Berkat kurnia dan nikmat daripada Allah ta'ala, ruhiyah, tingkahlaku dan ketakwaan Salim mencapai ke puncaknya, sehinggakan beliau disegani dan dihormati oleh rakan-rakannya sesama muslim.

Sahabat Nabi: Jaafar ibn Abi Talib

Golongan pertama yang memeluk Islam: 

Nama beliau ialah Jaafar bin Abi Talib bin Abdul Muttalib. Manakala gelaran beliau pula ialah Abi Masakin kerana terlalu suka kepada fakir miskin serta berlemah-lembut dan berbuat baik kepada mereka.Beliau merupakan sepupu Nabi s.a.w. Jaafar bin Abi Talib memeluk Islam bersama-sama kumpulan pertama yang mendahului orang lain. Oleh itu beliau tergolong di dalam golongan orang yang awal memeluk Islam.
Penghijrahan beliau ke Habsyah:- Oleh kerana Jaafar dan isterinya Asma' binti Amis menghadapi penyeksaan yang sangat kuat dari kaum musyrikin, akhirnya mereka diizinkan oleh Rasulullah s.a.w untuk berhijrah bersama orang-orang yang berhijrah ke Habsyah tempat Raja Najasyi.
- Setelah Quraisy mengutuskan Amru bin Al-As (sebelum beliau memeluk Islam) dan Abdullah bin Abi Rubai'ah menemui Raja Najasyi dengan membawa hadiah kepadanya dan kepada paderi-paderinya supaya Raja Najasyi menyerahkan kembali muhajirin dari kalangan umat Islam. Peranan Jaafar bin Abi Talib mula terserlah di dalam percakapannya dengan Raja Najasyi. Ummu Salamah r.a yang merupakan salah seorang dari kalangan umat Islam yang berhijrah ke Habsyah berkata: "kemudian Raja Najasyi meminta kami supaya berjumpa dengannya. Sebelum berjumpa dengan beliau, kami membuat perbincangan di antara kami. Lantas sebahagian di antara kami berkata: Sesungguhnya raja akan bertanya tentang agama kamu dan sudah pasti kamu akan membongkar segala keimanan kamu ini, biarlah Jaafar sahaja yang bercakap di kalangan kamu manakala yang lain hendaklah diam sahaja". Ummu Salamah berkata lagi: Kemudian kami berjumpa dengan Raja Najasyi dan kami dapati beliau telah menjemput para paderinya yang berada di sebelah kiri dan kanan beliau dalam keadaan memakai pakaian labuh dan memakai penutup kepala mereka sambil membuka kitab yang berada di tangan mereka dan kami dapati Amru bin Al-As serta Abdullah bin Abu Rubai'ah juga berada di sisi Najasyi tersebut. Setelah kami mengambil tempat masing-masing di dalam majlis tersebut Najasyi terus berpaling kepada kami dan berkata: Apakah dia agama yang kamu cipta untuk diri kamu ini menyebabkan kamu memecahbelahkan agama kaum kamu dan kamu tidak memeluk agama aku dan kamu juga tidak memeluk mana-mana agama dari agama ini?. 

Friday, August 20, 2010

Sahabat Nabi: Abdullah Ibn Umm Maktum

Dia bermasam muka dan berpaling. Kerana datangnya seorang yang buta. Padahal adakah memberitahumu boleh jadi dia akan akan menjadi orang yang suci? Atau dia akan ingat lalu memberi manfaat kepadanya ingatan itu? Adapun terhadap orang yang telah merasa cukup, maka engkau hadapkan perhatian itu kepadanya. (Surah Abasa 80: 1 – 6)

Kali ini terasa kelainanya. Boleh jadi juga kerana tajuk talk bulan ini tajuk yang paling diminati. Apatah lagi ia membicarakan peribadi generasi yang amat hampir dengan seorang Nabi yang ummi. Abdullah Ibn Umm Maktum si buta yang celik hatinya, namanya terbaris sebagai seorang generasi al-Quran yang unik bahkan kerana dia dua kali ayat-ayat Allah turun membasahi bumi.
Nabi Muhammad saw bersabda: Sahabat-sahabatku umpama bintang di langit. (Hadith sahih Riwayat al-Bukhari) Bintang di langit peranannya bukan sahaja menemani malam dengan penuh setia tetapi bersinar-sinar dan menjadi pedoman bagi pengembara. Begitulah bandingan sahabat Nabi yang setia itu, peribadi dan sifat-sifat mereka sebagai generasi al-Quran yang amat unik ini menjadi suatu ciri yang boleh dipedomani oleh kita dalam kehidupan.
Dia bersama Mus’ab Ibn Umair r.a meredah padang pasir menjadi golongan sahabat yang pertama berhijrah di Madinah. Bayangkan si buta dan si Muda Mus’ab diberikan tanggungjawab yg amat besar oleh Rasulullah saw. Pejam mata sejenak dan bayangkan seorang yang buta mengatur langkah hijrah yang pertama ini. Bayangkan juga Mus’ab yang memimpin musafir yang penuh bahaya itu. Andai dia tersalah langkah, andai musyrikin menghidu jejaknya, bukan sahaja nyawanya akan melayang, tetapi nyawa saudaranya yang buta dan masa depan dakwah di Yathrib sebelum Rasulullah berhijrah.

Dipendekkan cerita, tidak ada satu rumahpun yang tidak mendengar tentang Islam sebelum kedatangan Nabi. Dan inilah jasa dua manusia unggul ini. Abdullah Ibn Ummi Maktoum dan Mus’ab Ibn Umair.

Setelah Nabi Muhammad saw tiba di Madinah, baginda menetapkan tiga asas utama dalam pembinaan negara Islam Madinah. Pertama ialah persaudaraan, kedua ialah institusikan masjid sebagai medan dan pusat kehidupan dan ketiga ialah kepimpinan dan pelembagaan madinah. Tiga asas ini menjadi mudah untuk Rasulullah saw laksanakan hasil dari jejak-jejak hijrah yang pertama dan jasa para Sahabat r.a termasuklah si buta Abdullah Ibn Ummi Maktum ini.
Sekumpulan para Sahabat r.a dipersaudarakan oleh Rasulullah saw. Abdullah Ibn Ummi Maktoum ini dipersaudarakan dengan Bilal bin Rabah r.a. Si hitam yang dulunya hamba teraniaya tetapi setelah Islam maruahnya diletakkan sebaris dengan Umar al-Khattab, Abu Bakar al-Siddiq, Ammar bin Yasir, Ibn al-Jarrah. Malah sebaris dalam saf-saf solat di Masjid yang pertama di atas dunia.
Lalu bersahabat si buta dan si hitam ini. Tetapi mereka ini bukan calang-calang orang. Si hitam inilah yang suara takbir azannya mencecah awan, menembusi langit yang tujuh. Si buta inilah juga dilantik oleh Rasulullah saw sebagai ‘khalifah’ baginda 13 kali banyaknya iaitu sewaktu Nabi mengetuai ekspedisi dan peperangan menentang musuh Islam. Maka madinah dan seisi penduduk menjadi amanah Abdullah Ibn Ummi Maktum sewaktu baginda mengetuai ekspedisi di luar kota Madinah.
Si buta inilah yang dari jauh merayu-rayu kpd Rasulullah, wahai suami sepupuku (khadijah) ajarkan kepadaku apakah wahyu yang turun kepadamu hari ini?
Inilah rutin Abdullah dari kejauhan dan itulah yang berlaku dalam satu pertemuan Nabi bersama golongan pembesar Quraisy sehingga berubah air muka Rasul di atas kunjungan itu. Bukan Abdullah tidak tahu adanya tetamu besar bersama Nabi tetapi jiwanya yang merindui ayat-ayat al-Quran setiap hari menjadikan raganya kehausan al-Quran dan ternanti-nanti ayat-ayat yang baru.
Lalu turunlah wahyu menegur baginda dengan firman-Nya:

Dia bermasam muka dan berpaling. Kerana datangnya seorang yang buta.
Padahal adakah memberitahumu boleh jadi dia akan akan menjadi orang yang suci?
Atau dia akan ingat lalu memberi manfaat kepadanya ingatan itu?
Adapun terhadap orang yang telah merasa cukup, maka engkau hadapkan perhatian itu kepadanya.
(Surah Abasa 80: 1 – 6)

Siapakah Ibn Umm Maktum ini wahai Nabiku? Sehinggakan Allah menurunkan wahyu padamu kerananya? Sejak itu, Rasulullah saw dari jauh lagi mengalu-alukan kehadiran Abdullah, ‘telah datang sepupu isteriku yang kerananya turun wahyu menegurku’ .. Ibn Umm Maktum mempunyai pertalian saudara dengan isteri Rasulullah s.a.w iaitu Khadijah binti Khuwailid. Beliau antara penduduk Mekah yang awal memeluk Islam.
Bagaimanakah seorang buta membuat penilaian dan memilih untuk memeluk Islam? Tidak takutkah si buta ini pada halangan dan juga ancaman yang dahsyat dari kumpulan Quraisy? Sudahlah matanya buta, bagaimana sekiranya tubuhnya dicedera atau dipukul dan diazab oleh Quraisy yang berkuasa? Bukankah era dakwah di Mekah ketika itu tertekan dengan suasana yang dipantau dengan ketat, diancam dengan penjara dan azab? Bahkan banyak percubaan untuk membunuh Rasulullah, menangkap para sahabat r.a dan juga mengazabkan golongan miskin yang Islam? 
Mereka ingin melenyapkan cahaya Allah (Islam, al-Quran dan mesej dakwah Rasulullah) dengan mulut-mulut mereka (arahan, ancaman, perintah, kuatkuasa undang-undang dsb), tetapi Allah akan sempurnakan cahaya-Nya sekalipun orang-orang yang kafir itu amat membencinya. Dia-lah yang mengutuskan rasul-Nya dengan hidayah dan agama yang benar mengatasi agama (cara hidup) yang lain, sekalipun golongan yang syirik itu amat membencinya. (Al-Saf 8-9).
Apabila hidayah dan nur daripada Allah ini ingin menyinar, ia akan menembusi jua walaupun dalam ruang yang sempit. Nur itulah yang membuka mata hatinya sehingga Ibn Umm Maktum sekalipun buta tetapi ‘melihat’ kebenaran.
Rasulullah s.a.w diberi peringatan oleh Allah bahawa Ibn Maktum ini lebih besar harapannya dan jiwanya lebih berkembang dan meningkat menjadi seorang yang suci dan bersih hatinya. Meskipun buta matanya, kalau jiwa bersih, kebutaan bukan beban dan tidak juga menghambat peningkatan iman seseorang. Manakala mereka yang golongan yang telah merasa cukup dan tidak perlu ditunjuk jalan, pintar dan berasa diri lebih kaya, golongan ini bukan lah prioriti untuk diberikan perhatian. Bahkan menurut mufassir golongan ini akan datang kepada agama setelah kemenangan untuk mengaut keuntungan dan ada kepentingan.
Bayangkan sehalus itu kritikan Allah mengajar Nabi s.a.w. Ciri dan sikap Abdullah Ibn Umm Maktum ini lebih wajar untuk dipedomani oleh generasi umat Islam. Manakala ciri kedua pula adalah sifat-sifat yang mesti dijauhi.

Setelah Rasulullah saw wafat, Bilal r.a membawa diri ke Syria lantaran kesedihan yang amat terdapat kehilangan Nabi. Apalah ertinya lagi apabila kekasih yang mulia hilang di mata. Bilal r.a menyertai ekspedisi pembukaan kota-kota dan membawanya sehingga ke utara Syria. Manakala Ibn Umm Maktum terus berada di Madinah sehinggalah saat umat Islam bersiap siaga untuk menyertai peperangan al-Qaadisiyyah iaitu peperangan yang akan menentukan jauh bangunnya empayar Islam dan menamatkan kekejaman Byzantine. Jika tentera Muslimin menang, maka jatuhlah sebuah empayar yang digeruni dan tamatlah penindasan ke atas rakyat dan jajahan taklukannya.
Abdullah yang sejak hayat Rasulullah meronta-ronta untuk ke medan jihad, akhirnya memohon khalifah Umar al-Khattab membenarkan dia pergi.
‘Wahai Umar, tentera Islam memerlukan seorang yang tetap memegang panjinya. Berikanlah tanggungjawab itu kepadaku.
Aku ini buta, akan kuredah semua di hadapanku, engkau akan perlukan orang yang tidak akan menjatuhkan atau membuatkan panji Islam tergelincir. Orang itu ialah aku. aku akan mara tatkala orang lain mengelak tikaman tetapi aku tidak, dan engkau perlukan seseorang sepertiku’..(ulang Abdullah berkali-kali)

Umar berfikir panjang. Abdullah Ibn Umm Maktum bukan calangan orang. Dia telah Islam sewaktu orang-orang lain termasuk dirinya masih kufur. Dia telah berhijrah sewaktu orang-orang lain masih berlindung di Makkah. Dia telah mengislamkan penduduk Madinah sebelum Rasulullah tiba. Malah dia berada di saf yang awal dalam solat sebaris dengan sahabat-sahabat lain yang mulia. Bahkan kerananya dua kali ayat-ayat al-Quran turun ke dunia.

Maka atas alasan apakah lagi untuk dia menolak permintaan itu. Sejarah gemilang Abdullah di medan tempur ini dirakamkan oleh Anas yang melihat sendiri Ibn Ummi Maktum ini berjuang di bawah ribuan tentera pimpinan Saad Ibn Abi Waqas. Akhirnya beliau diterima sebagai sahabat yang syahid oleh Allah swt.

Rasulullah saw pernah bersabda maksudnya: Apabila menjelang fajar tunggulah azan Bilal bin Rabah, apabila ingin solat fajar tunggulah azan Ibn Umm Maktum. Bilal r.a dan Ibn Umm Maktum ini bergilir saban hari melaungkan azan di Madinah. Itulah rutin dua muazzin Rasulullah s.a.w ini. Cumanya, bagaimana seorang yang buta tahu bilakah waktu solat bermula?
Talk pada hari itu diakhiri dengan penjelasan.. Because he could smell the fajr… his heart beat with the sun.  

Moga-moga Allah menambah iman kita walau hanya sedetik. 

Credit to: www.Cheadek.wordpress.com

Sunday, July 11, 2010

Sahabat Nabi: Salman Al-Farisi


KEJUTAN antara senjata ampuh dalam peperangan. Itulah yang berlaku dalam Perang Khandak (Parit). Selepas kejayaan tentera Quraisy mengalahkan umat Islam pada perang Uhud, mereka ingin melakukannya lagi dalam perang Khandak pada 6 Hijrah. Dengan pakatan orang Yahudi Madinah daripada puak Bani Nadir dan jumlah tentera melebihi 10,000 pasukan, tentera gabungan kaum musyrik di bawah pimpinan Abu Sufyan ibn Harb menyerang Madinah.

Tentera Islam dengan kepemimpinan Nabi SAW hanya berjumlah 3,000 pasukan, manakala pihak musuh pula 10,000 orang. Mesyuarat pun diadakan untuk mencari kesepakatan yang terbaik dalam mempertahankan Madinah.
Nabi pun menerima cadangan itu dan memerintahkan semua sahabat untuk membuat parit di sekitar Madinah. Akhirnya mereka berhasil membuatnya dalam tempoh enam hari. Berkat parit itulah, Madinah terselamat daripada jatuh ke tangan musuh Islam. Umat Islam memperoleh kemenangan besar dalam peperangan ini dan dijadikan satu nama surah al-Quran iaitu surah al-Ahzab (Gabungan Tentera).

Antara sebab kemenangan itu adalah ada unsur kejutan dalam pembuatan parit yang tidak dikenali masyarakat Arab ketika itu. Unsur kejutan ini diberikan cadangannya oleh seorang sahabat warga asing yang berasal dari Parsi bernama Rouzbeh atau yang dikenali dalam Islam dengan nama Salman al-Farisi.

Salman al-Farisi pada awal hidupnya ialah seorang bangsawan dari Parsi yang menganut agama Majusi.

Beliau dilahirkan di kota Kazerun, Fars, Iran. Ayahnya seorang Dihqan atau pegawai daerah. Dia adalah orang terkaya dan memiliki rumah terbesar.
Sebagai seorang ilmuwan dalam agama Majusi yang tidak henti-henti mencari kebenaran, Salman kemudian menemukan agama Kristian lebih baik daripada Majusi dan melarikan diri ke Syria untuk mendalaminya. Paderi terakhir sebagai gurunya memberitahunya bahawa sudah datang seorang nabi di tanah Arab, yang memiliki kejujuran, yang tidak memakan sedekah untuk dirinya sendiri.

Salman pun ke Arab mengikuti pedagang dari Bani Kalb, dengan memberikan wang dimilikinya. Pedagang itu setuju untuk membawa Salman. Ketika tiba di Wadi al-Qura (tempat antara Syria dan Madinah), pedagang itu mengingkari janji dan menjadikan Salman bahan dagangan yang dijual kepada seorang Yahudi.

Salman pun tiba di Madinah bersama tuannya. Selepas berjumpa dengan Nabi, Salman akhirnya memeluk Islam, tapi beliau masih hidup sebagai hamba sahaya Yahudi sehinggalah dimerdekakan oleh Nabi dan sahabat selepas perang Uhud. Uniknya, sebahagian wang tebusan memerdekakan Salman itu diberikan Nabi SAW melalui penanaman 300 pokok kurma yang ditanam Baginda.

Salman bagaimanapun belum boleh mengikuti perang Uhud dan sebelumnya perang Badar kerana beliau masih menjadi budak hamba.
Betapa gembira hatinya, kenyataan diterimanya jauh melebihi apa dicita-citakan, daripada sekadar ingin bertemu dan berguru menjadi anugerah bermakna iaitu pengakuan sebagai Muslimin. Beliau diletakkan di bawah jagaan Abu Darda’ al-Ansari.
Salman al-Farisi banyak mendapat gelaran daripada Rasulullah SAW seperti disebutkan dalam beberapa hadis antaranya ‘Imam,’ ‘Benderanya Bendera,’ ‘Ahli Waris Islam,’ ‘Ilmuwan yang amat berilmu’ dan ‘Seorang Keluarga Nabi.’
Salman juga yang mencadangkan tentera Islam pimpinan Sa’ad bin Abi Waqqas untuk menyeberangi Sungai Tigris untuk menakluk tentera Parsi pada 16 Hijrah, padahal tentera Islam tidak biasa menghadapi situasi tempat yang ada sungai. Mereka hampir putus harapan bagaimana mahu menyeberanginya.
Selepas menyeberangi sungai tanpa seorang pun yang tewas dan cedera yang mana kejadian itu menakjubkan tentera Parsi dan rajanya sehinggakan mereka semua memilih untuk memeluk Islam.
Salman al-Farisi kemudian diangkat menjadi Gabenor di Parsi. Bagaimanapun, beliau tidak sombong, lalai dan tertipu dengan muslihat dunia. Beliau tidak memiliki rumah dan hanya tidur di bawah lindungan bayangan satu pohon ke pohon yang lain.

Salman al-Farisi meninggal dunia pada 33 Hijrah pada zaman Khalifah Othman ibn ’Affan, di tempat beliau dilahirkan.

Sunday, April 25, 2010

Sahabat Nabi: Saad bin Abi Waqqas

Saad lahir dan besar di kota Makkah. Ia dikenal sebagai pemuda yang serius dan memiliki pemikiran yang cerdas. Sosoknya tidak terlalu tinggi namun bertubuh tegap dengan potongan rambut yang pendek. Orang-orang selalu membandingkannya dengan singa muda.

Ia berasal dari keluarga bangsawan yang kaya raya dan sangat disayangi kedua orangtuanya, terutama ibunya. Meski berasal dari Makkah, ia sangat benci pada agamanya dan cara hidup yang dianuti masyarakatnya. Ia membenci upacara penyembahan berhala yang menjadi budaya di Makkah saat itu.

Suatu hari dia didatangi Abu Bakar yang dikenal sebagai orang yang ramah. Ia mengajak Saad menemui Muhammad di sebuah bukit dekat Makkah. Pertemuan itu amat berkesan di jiwa Saad yang ketika itu baru berusia 20 tahun.

Ia pun segera menerima undangan Muhammad s.a.w. untuk menjadi salah seorang penganut ajaran Islam yang dibawanya. Saad kemudian menjadi salah satu sahabat yang pertama masuk Islam.

Saad sendiri secara tidak langsung memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah s.a.w.. Ibunda rasul, Aminah binti Wahhab berasal dari suku yang sama dengan Saad iaitu dari Bani Zuhrah. Kerana itu Saad juga sering disebut sebagai Saad dari Zuhrah, untuk membezakannya dengan Saad-Saad yang lain.

Namun keislaman Saad mendapat tentangan keras terutama dari keluarga dan anggota sukunya. Ibunya bahkan mengancam akan bunuh diri. Selama beberapa hari, ibunda Saad menolak makan dan minum sehingga kurus dan lemah. Meski dipujuk dan dibawakan makanan, namun ibunya tetap menolak dan hanya bersedia makan jika Saad kembali ke agama lamanya. Namun Saad berkata bahawa meski ia memiliki kecintaan luar biasa kepada ibunya, namun kecintaannya pada Allah s.w.t dan Rasulullah s.a.w jauh lebih besar lagi.

Sunday, April 4, 2010

Sahabat Nabi: Abdullah ibn Mas'ud

Beliau adalah seorang sahabat yang agung Abdullah bin Mas’ud –semoga Allah meridhoinya-, pada awalnya beliau seorang budak milik Uqbah bin Mu’ith, sang penggembala hewan ternak milik tuannya pada salah satu perkampungan di kota Mekkah. Dan pada suatu hari Rasulullah saw dan Abu Bakar Shiddiq lewat kepadanya dan bertanya : “Wahai anak muda apakah ada susu pada gembalamu ?” Maka Abdullah menjawab : “Ya, tapi saya hanyalah penjaga”. Maka Nabi berkata lagi : “apakah ada diantara kambing yang mandul tidak dapat memberikan anak”. Ya, jawabnya. Kemudian dia memberikan kambing yang tidak bisa menghasilkan susu, kemudian Rasulullah saw mengusap-usap perutnya dengan tangannya yang mulia dan membacakan beberapa kalimat, maka mengalirlah susu atas izin Allah dari hewan tersebut, lalu Rasulullah saw menampung susu tersebut dengan kedua tangannnya dan meminumnya, baru kemudian diberikan kepada Abu Bakar untuk diminum. Kemudian Rasulullah saw berkata di hadapan kambing tersebut : “Berhentilah”, maka berhenti dan mengeringlah susu dari perutnya, hingga Abdullahpun merasa terheran dan berkata : “Ajarkan kepada saya kalimat yang Engkau baca tadi ! lalu Rasulullah saw memandangnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, dan mengusap kepalanya dan dadanya, lalu bersabda : “Sesungguhnya engkau adalah anak kecil yang berpendidikan”, lalu beliau pergi dan meninggalkannya. (Ahmad)

1. Sahabat Nabi: Muadz bin Jabal r.a

Kelahiran dan kehidupan beliau: -
Mu'adz bin Jabal r.a dilahirkan di Madinah. - Muadz r.a mempunyai ciri-ciri keistimewaan sebagai seorang yang sangat pintar, mempunyai penampilan sebagai seorang yang perkasa dan berhemah tinggi. Allah mengurniakan kepada beliau kepetahan bercakap, mempunyai rupa paras dan tutur kata yang indah. - Mu'adz bin Jabal r.a memeluk Islam sejak beliau masih kecil melalui Mus'ab bin Umair yang diutuskan oleh Rasulullah s.a.w ke Madinah untuk mengajar penduduk Madinah.

Sifat terpuji beliau: -

Sebaik sahaja Nabi s.a.w berhijrah ke Madinah, Mu'adz sentiasa berada bersama dengan Rasulullah s.a.w sehingga beliau dapat memahami Al-Quran dan syariat-syariat Islam dengan baik menyebabkan beliau muncul sebagai seorang yang paling alim tentang Al-Quran dari kalangan para sahabat, orang yang paling baik membaca Al-Quran serta paling memahami syariat-syariat Allah. - Oleh sebab itulah Rasulullah s.a.w memuji beliau dengan bersabda: Yang bermaksud: Umatku yang paling alim tentang halal dan haram ialah Muaz bin Jabal. Hadis riwayat Tirmizi dan Ibnu Majah. - Mu'adz r.a terdiri dari kalangan enam orang yang mengumpulkan Al-Quran pada zaman Rasulullah s.a.w. - Setelah Allah s.w.t membuka Kota Mekah kepada Rasulullah s.a.w, penduduk Mekah memerlukan kepada tenaga pengajar yang tetap tinggal bersama dengan mereka untuk mengajar syariat Allah s.w.t, lalu Rasulullah s.a.w meminta supaya Muaz tinggal bersama dengan penduduk Mekah untuk mengajar Al-Quran dan memberikan kefahaman kepada mereka mengenai agama Allah s.w.t.

Sunday, March 14, 2010

Sahabat Nabi: Abu Ayyub Al-Ansari

Nama sebenar beliau ialah Khalid bin Zaid bin Kulaib dari Banu Najjar. Beliau merupakan salah seorang sahabat yang utama dan paling rapat kepada Nabi SAW.

Ketika Rasulullah SAW sampai di Madinah di dalam peristiwa hijrah, baginda disambut dengan gembira oleh orang-orang Ansar di Madinah. Hati mereka berada bersama-sama baginda dan mata mereka sentiasa mengikuti pererakan baginda dengan rasa penuh cinta dan kebaktian. Mereka ingin memberi baginda sambutan yang amat baik sekali pernah diberikan oleh seseorang.

Pada mulanya, Rasulullah SAW berhenti di Quba yang terletak dekat pinggir kota Madinah dan tinggal di sana selama beberapa hari. Perkara pertama yang dilakukannya ialah membina sebuah masjid sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an:

“Masjid yang didirikan atas dasar taqwa.” (At-Taubah: 108)

Nabi SAW memasuki kota Madinah dengan menunggang untanya. Para pemimpin Madinah berdiri di sepanjang jalan, setiap orang berharap untuk mendapatkan penghormatan dari Nabi SAW agar baginda ingin singgah dan bermalam di rumahnya. Seorang demi seorang berdiri di jalan yang dilalui oleh unta baginda. Mereka semua berkata:

“Tinggallah bersama kami, hai Rasulullah.”

Rasulullah SAW akan menjawab:

“Biarkanlah unta ini berjalan semahunya.”

Unta itu terus berjalan, diikuti dengan rapat para penduduk Madinah. Setiap kali ia melewati sebuah rumah, tuan rumah tersebut merasa sedih dan kecewa manakala orang-orang yang rumahnya menunggu giliran untuk dilalui oleh unta itu sentiasa mengharap-harap agar ia berhenti di depan pintu mereka. Unta itu meneruskan perjalanannya dengan diikuti oleh orang ramai sehingga ia berhenti di atas sebidang tanah di depan rumah Abu Ayyub Al-Ansari. Namun, Rasulullah SAW tidak turun dari untanya itu.

Thursday, March 4, 2010

Jangan sampai kita dan anak-anak kita tak tau...

Kita sering bermegah-megah dengan Albert Einstein, Vasco Da Gama, Orville Wright ,Wilbur Wright dan ramai lagi tokoh-tokoh barat yang sangat disanjung-sanjung..
Kita sering terlupa..bahawa sahabat nabi sangat hebat..berjuang menegakkan islam dalam kepayahan dan kesusahan...mereka bukan calang-calang orang..Ada di antaranya disebut-sebut dalam Al-quran..

Sistem pendidikan kita adalah rangka campuran..maka sedikit demi sedikit..ingatan terhadap sirah sahabat terhakis dari minda kita dan anak-anak kita...sedangkan mereka bukan calang-calang orang..hidup dan berjuang dengan rasulullah...diredhai oleh Allah dan dijamin syurga..!!

Hebatnya Umar Alkhatab-khalifah yang berani dan tinggi darjat ketakwaannya kepada Allah..sehingga disebut..syaitan pun tak berani ikut bekas laluan Umar..Kita hanya kenal Abu Hurairah sebagai bapak kucing..kerana sukakan kucing..tapi kita lupa hebatnya personaliti beliau sehingga diangkat menjadi Gabenor di Madinah..

Sahabat Nabi: Mus'ab bin Umair

Berikut kisah Mus’ab bin Umair:
MUS’AB BIN UMAIR : Pemuda Dakwah

Mus’ab bin Umair adalah sahabat Rasulullah S.A.W. yang sangat berjasa dan menjadi teladan kepada umat Islam sepanjang zaman. Sebelum memeluk Islam, dia berperawakan lemah lembut, suka berpakaian kemas, mahal dan indah. Malah dia selalu bersaing dengan kawan-kawannya untuk berpakaian sedemikian. Keadaan dirinya yang mewah dan rupanya yang kacak menyebabkan Mus’ab menjadi kegilaan gadis di Makkah. Mereka sentiasa berangan-angan untuk menjadi isterinya.

Mus’ab sebenarnya adalah anak yang paling disayangi ibunya berbanding adik beradiknya yang lain. Apa sahaja permintaannya tidak pernah ditolak. Oleh itu tidaklah menghairankan apabila ibunya begitu marah selepas mendapat tahu Mus’ab telah menganut Islam. Ibunya telah mengurung dan menyeksa Mus’ab selama beberapa hari dengan harapan dia akan meninggalkan Islam. Bagaimanapun tindakan itu tidak sedikit pun melemahkan keyakinannya. Pujukan dan ancaman ibunya tidak berkesan. Mereka sudah habis ikhtiar lalu membebaskannya buat sementara.

Sahabat Nabi: Ubay bin Ka'ab

Ubay bin Ka'ab merupakan salah seorang perintis dari penulis-penulis wahyu dan penulis-penulis surat. Begitu juga dalam menghafal Alquran, membaca dan memahami ayat-ayatnya, ia termasuk golongan terkemuka...

Pada suatu hari Rasulullah saw. menanyainya, "Hai Abul Mundzir, ayat manakah dari kitabullah yang teragung?" Orang itu menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Nabi saw. mengulangi pertanyaannya, "Abul Mundzir, ayat manakah dari kitabullah yang teragung?" Maka ia menjawab, "Allah, tiada tuhan melainkan Ia, Yang Maha Hidup lagi Maha Pengatur." (Al-Baqarah: 255).

Rasulullah saw. pun menepuk dadanya. Dan, dengan rasa bangga yang tercermin pada wajahnya, ia berkata, "Hai Abul Mundzir, selamat bagimu atas ilmu yang kamu capai."
Abul Mundzir yang mendapat ucapan selamat dari Rasulullah saw. yang mulia atas ilmu dan pengertian yang dikaruniakan Allah kepadanya itu tiada lain adalah Ubay bin Ka'ab, seorang sahabat yang mulia. Ia seorang warga Anshar dari suku Khajraj, ikut mengambil bagian dalam perjanjian Aqabah, Perang Badar, dan peperangan-peperangan lainnya. Ia mencapai kedudukan yang tinggi dan derajat mulia di kalangan kaum muslimin angkatan pertama, hingga amirul mukminin Umar pernah mengatakan tentangnya, "Ubay adalah pemimpin kaum muslimin ...."

Sunday, February 7, 2010

Sahabat Nabi: Bilal bin Rabah

BILAL BIN RABAH R.A.
Dilulus Oleh:Bukitbesi Online | Tuesday, November 28 @ 18:49:21 MYT

Beliau berada di dalam rombongan kafilah Nabi s.a.w., ketika mana Jibril a.s. turun membawa wahyu (dari langit). Antara mereka yang terpilih di dalam kumpulan penegak kebenaran, pada hari-hari Nabi Muhammad s.a.w. hidup di kalangan mereka. Itulah Bilal, seorang hamba berketurunan Habsyi (Ethopia) mengambil tempatnya di dalam kelompok awal (senior) yang memeluk Islam. Statusnya sebagai seorang hamba abdi tidak menghalangnya untuk membebaskan jiwa dan rohnya kepada Allah. Status itu juga tidak pernah menghalangnya dari menjawat jawatan bendahari (khazin) dan tukang azan (muazzin) Rasulullah s.a.w.

Beliau tidak memeluk Islam kerana ternampak kelibat habuan duniawi di dalam dakwah Nabi Muhammad s.a.w., (kerana dakwah Rasulullah tidak begitu). Beliau memeluk Islam ketika (suasana yang meruncing) di mana setiap orang yang memeluk Islam di sekelilingnya diuji dengan pelbagai seksaan. Kalimah `La Ilaha Illallah' merupakan satu revolusi yang dicetuskan dan disemarakkan oleh aqidah. Satu kebangkitan menentang kezaliman manusia terhadap diri sendiri, agar mereka tidak menyembah hawa nafsunya selain Allah.

Sahabat Nabi: Abu Hurairah

Abu Hurairah r.a, sahabat Nabi Muhammad s.a.w, dikatakan biasa berpuasa sunat tiga hari pada setiap awal bulan Qamariah (bulan Arab dalam tahun Hijrah), mengisi malam harinya dengan membaca al-Quran dan solat tahajud.Beliau akrab dengan kemiskinan. Beliau sering mengikatkan batu ke perutnya untuk menahan lapar. Dalam sejarah, beliau dikenal sebagai tokoh yang paling banyak meriwayatkan hadis. Beliaulah Bapa Kucing Kecil (Abu Hurairah). Begitu orang mengenalnya.

Selepas 7 tahun berlalu..:)

Cepat benar masa berlalu kerana diam tak diam sudah melepasi 7 tahun (2011 - 2018) saya mengalami kecederaan tulang belakang di Lumbar (L4/...